Lean – Transportation Management System : 4 Hukum yang Mendasarinya

March 27, 2008 at 9:38 am Leave a comment

Dalam sistem produksi kita mengenal adanya Toyota Production System atau yang biasa disebut TPS. TPS adalah konsep lean manufacturing system yang dikembangkan oleh Toyota. Apakah konsep lean ini bisa dipakai di sistem manajemen transportasi? Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan lean itu? Definisi dari APICS dictionary (2005), menyebutkan bahwa lean adalah suatu filosofi bisnis yang berlandaskan pada minimasi penggunaan sumber – sumber daya (termasuk waktu) dalam berbagai aktivitas perusahaan. Sasaran Lean adalah identifikasi dan eliminasi aktivitas – aktivitas tidak bernilai tambah (pemborosan) atau yang biasa disebut waste atau kalau orang jepun bilang “muda”. Muda? Apaan tuh? Coba lihat table dibawah untuk mengidentifikasi muda atau waste tadi.

Muda

Deskripsi

Root cause

Overproduction

Memproduksi lebih daripada kebutuhan pelanggan internal dan eksternal, atau memproduksi lebih cepat daripada kebutuhan pelanggan

ketiadaan komunikasi atau informasi akan pemenuhan kebutuhan pelanggan internal dan eksternal

Inventory

Kelebihan dari apa yang dibutuhkan untuk memberikan service (produk) kepada pelanggan, baik internal maupun eksternal

Peralatan yang tidak andal, aliran kerja yang tidak seimbang, pemasok yang tidak kapabel, permalan kebutuhan yang tidak akurat, ukuran batch yang besar

Correction

Pemborosan yang timbul karena kita memperbaiki kesalahan yang tidak terdekteksi dari awal

Tidak adanya SOP yang benar, kurangnya sense of quality

Over processing

Proses – proses tambahan atau aktivitas yang kerja yang tidak bernilai tambah atau tidak efisien

Ketidak tepatan penggunaan peralatan, pemeliharaan peralatan yang jelek, proses kerja parallel yang dibuat serial

Motion

Setiap pergerakan dari orang atau mesin yang tidak bernilai tambah

Organisasi kerja yang jelek, tata letak yang jelek, metode kerja yang tidak konsisten

Waiting

Keterlambatan karena menunggu material, orang, proses sebelumnya, atau hal – hal dinamis lainnya yang berimplikasi pada terbuangnya waktu

Inkonsistensi metode kerja, changeover yang lama

transportation

Memindahkan material atau orang dalam jarak yang sangat jauh dari satu proses ke proses berikutnya yang dapat mengakibatkan penanganan ,material bertambah

Tata letak yang jelek, lokasi penyimpanan yang banyak dan saling berjauhan

Sedangkan dari sisi kualitas, transportasi yang baik harus mendukung terciptanya 8 rights tanpa membuat pemborosan. 8 rights yang dimaksud adalah : right material, right quantity, right time, right place. Right source, right price, right quality, dan right service.

Berdasarkan hal diatas, maka yang dimaksud dengan lean transportation management system adalah sistem transportasi efektif dan terintegrasi untuk menghilangkan pemborosan (waste) dan meningkatkan nilai tambah (value added) produk (barang/jasa) agar memberikan nilai kepada pelanggan.

Transportasi seringkali menjadi kambing hitam dalam kelebihan inventory dan biaya logistik. Manajemen transportasi sangat diperlukan dalam melihat pemborosan – pemborosan yang mungkin tidak terlihat dalam alirannya. Empat hukum lean transportasi seperti yang dijabarkan Linda Taylor (dari FedEx) dan Robert Martichenko (LeanCor LLC), dapat menjelaskan bagaimana transportsi menjdai optimal dan memberikan dampak yang positif kepada kinerja organisasi.

Hukum Lean Transportasi 1 – Hukum Pemborosan Transportasi

“Semua transportasi bukanlah pemborosan dan transportasi dapat digunakan sebagai strategi, akan tetapi transportasi yang berlebihan dari apa yang dibutuhkan adalah pemborosan dan harus dihilangkan”

Logistik secara aliran dapat kita bedakan menjadi dua. Yaitu external logistic dan internal logistic. External logistic adalah semua aliran produk dari lini supplier hingga area penyimpanan, sedangkan internal logistic adalah aliran dari lini penyimpanan sampai lini produksi. Dalam konsep lean manufacturing, lean bertumpu pada implementasi small lot (untuk mengurangi space), aliran satu arah, dan mengurangi inventory. Sehingga dari sisi external logistic yang dalam hal ini adalah transportasi ditantang untuk membawa barang dalam jumlah sedikit dengan frekuensi yang banyak. Kondisi ini berlawanan dengan bahwa membawa barang dalam kuantitas yang maksimal dengan frekuensi yang sedikit akan mengurangi biaya transportasi.

Untuk mengatasi kesenjangan diatas lean transportasi harus dapat menjembatani antara kebutuhan internal logistic dan external logistic, dengan 3 tujuan utama yaitu: meningkatkan ferkuensi delivery, mengurangi ukuran lot, dan pelevelan aliran material. Sehingga hukun lean transportasi kedua berbunyi.

Hukum Lean Transportasi 2 – Hukum Strategi Transportasi

“Strategi transportasi dan eksekusinya seharusnya mendukung strategi inventory yang didesain untuk memenuhi harapan pelanggan. Inventory dan strategi pelanggan seharusnya tidak menjadi hasil dari strategi transportasi berdasarkan optimasi dari fungsi transportasi”

Strategi transportasi harus mendukung konsep produksi JIT (Just In Time). Sehingga strategi transportasi bisa dikatakan unik. Belum tentu sistem yang satu akan berdampak sama bila di implement di sistem yang lain. Konsep Milk Run Delivery akan berhasil jika diterapkan untuk sistem delivery yang sebelumnya mempunyai efisiensi kecil sehingga barang yang di loading lebih kecil daripada kubikasi truk (LTL – Less Than Truck Load). Sedangkan untuk sistem produksi skala besar, sistem junbiki delivery cocok untuk diimplement karena akan sangat mereduce space dan bisa mendukung adanya cost reduction. Strategi transportasi apapun yang akan diimplement haruslah mendukung konsep JIT yang ada di lini produksi.

Seringkali dalam transportasi, karena adanya fluktuasi permintaan pelanggan, menyebabkan banyak losses yang terjadi. Mulai dari kasus overflow, delay delivery, maupun reverse logistic, sehingga optimasi dari manajemen harian terutama dalam kasus manajemen operasional adalah hukum ketiga yang sangat penting dalam menjamin cost reduction yang kita planningkan berjalan dengan lancar.

Hukum Lean Transportasi 3 – Hukum Manajemen Harian

“Pengurangan biaya transportasi tidak dapat diwujudkan melalui desain jaringan transportasi yang jarang. Penghematan yang nyata hanya akan terjadi dari menajemen harian dan optimisasi persyaratan variable transportasi”

Konsep dari aliran PDCA – Planning – Do – Check – Action. Atau yang oleh Mattewh E. May dalam bukunya The Elegant Solution: Toyota’s Formula for Mastering Innovation disempurnakan menjadi IDEA – Investigate – Design – Excecute – Adjust bisa menjadi tools yang efektif dalam monitoring manajemen operasional sistem tranportasi kita dimana kestabilan menjadi goalnya.

Untuk itu hasil yang kita dapatkan haruslah menjadi standar acuan kita dalam menjalankan kaizen (continuous improvement). KPI (Key Performance Indicator), haruslah kita decide di awal. Sehingga hukum ke-empat berbunyi:

Hukum Lean Transportasi 4 – Hukum Kinerja Transportasi

“Pelayanan transportasi dibedakan dengan jelas dan kinerja yang terukur”

Dengan adanya 4 hukum di atas, meskipun tidak mengikat akan bisa menjadi acuan kita dalam mendesain konsep lean – transportation management system.

wassalam,

ekhsano

Entry filed under: consulting, SCM. Tags: , .

SERVICING – TRUCKING for LOGISTICS TRANSPORTATION Engineering – Mesh Pallet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Calendar

March 2008
M T W T F S S
    Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Most Recent Posts


%d bloggers like this: